Kamis, 11 September 2014

Tragedi Si Tuan




Kalian ku undang – undang
Datanglah kuberi kalian sebanyak yang kalian mau
Ambillah ini… untuk kalian semua
Lihat… lihat… koin emas kan?
Ambillah! Ambil!
Aku punya banyak

Kerumunan sesak
Banyak mati terinjak
Tangis terhimpit menjerit

Prajurit ditarik mundur
Karna tangan menjambak koin emas
Ambil… ayo ambillah!

Sejuta tangan makin beraksi
Tak sengaja salah senggol
Ada satu tubuh terpental
Dengan meringis karna patah tangan
Murka !
Beraninya kau!



Ampun tuan,
Beraninya kau menjatuhkan ku
Crassssh…!
Satu kepala mengglinding ke luar
Si tuan terkejut tak dapat elak
Sejuta tangan menjambak tubuh terkoyak
Mati! Mati! Mati!

Super Heros




Berasal dari orang biasa
Bahkan terlalu biasa untuk dianggap
Dari postur tubuh cungkring, penakut dan loyo?
Diremehkan tlah biasa
Semula sebagian tak menyangka
Bagaimana mungkin?
Sebagian sebab gigitan,
Terteguk larutan hijau,
Tersuntik suplemen special?
Sebagian mulai ada perubahan saat bangun pagi
Mata tak lagi berkunang,
Dada membesar dengan berhias otot kekar
Kekar! tak biasanya berotot kuat
Apa ini?
Ada kekuatan besar!
Sebagian mulai beraksi
Ada yang terbang berkostum, bergelayutan, raksasa hijau membesar
Menolong nenek tua dari runtuhan gedung
Menyelamatkan wanita cantik
Mencegah sebuah bis yang siap ke jurang, melawan berbagai monster
SUPER HERO! Teriak mereka
SUPER HERO! Kini pangkatnya

Serik Tersiram Bening


Serik pengganggu
Kumpulan minyak terasa makin menggumpal
Nyalah serik ini!
Segeralah serik tersiram aliran bening

Segeralah




Segeralah datang kesembuhan bagi badan
Segeralah tangis berganti tawa
Segeralah tawa ini menjadi tawa yang akan datang
Segeralah seulas senyum hadir di wajah teduh itu
Segeralah datang ramai riang pengusir sakit
Segeralah pengacau pergi agar aman negeri ini
Segeralah temui wajah kedamaian
Segeralah riang dalam gelap malam

Sayangmu




Yang di depan kita agak ke kanan sedikit
Itu kan beda dengan kita
Kau kunjungi mereka
Kau beri mereka apa yang kau olah
Rupiah tak sayang kau lepas
Sayangmu melebihi kaum
Kaum pihaknya tak sebegitu sayang
Ia menumpang di sini
Berbagai dalihya pun sering kau dengar
Sayangmu lagi kau berikan
Kini salah satu putrimu geram
Apa sebabnya?
Ia beda bu! sahutnya Tak seharusnya
Akan ku tatar ia! Ku sarankan agar pergi
Apa ini sayangmu? Aku sakit… sakit aku…