Jumat, 24 Januari 2014

inspirasilin



Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu di bumiku
Dan engkaulah itu…



Karya: Someone
Bunga
Bunga mati sebelum wktunya
Meninggalkan tunas baru
Akankah tunas ini dapat merekah
Dengan indah????

Karya: Marlinawati



Kabut
Tidak bisa
Tidak dapat melihat
Aku tidak dapat melihat
Kabut menutupi pagiku
Tolonglah…
Langkah ini tak mau berhenti
Hingga aku terperosok Dalam lubang
yang masih belum terlalu dalam
aku butuh cahaya
KAU…
Kau yang di sana sedari tadi
Ku mohon tolonglah aku
Tidak kah kau melihat lumpur yang menjijikkan ini??
Yang dengan seenaknya menempel dan mengguyuri badanku
Bukan kah kau ingin melihat wajahku???
Kau ingin melihat wajahku???
Jangan pergi….!
Kau tak perlu takut padaku
kau tak perlu ragu…
Kemarilah… dan mendekatlah padaku…
Bawakan aku sependar cahaya… aku benar-benar butuh cahaya…
Untuk menerangi hari-hariku…
Agar aku bisa keluar dari kubangan lumpur
Yang menjijikkan ini…
Karya: Marlinawati
 

Buku
Lembar demi lembar berisikan ilmu
Dengan segala macam materi-materinya
Yang membuatku tahu banyak hal

Kau sebagai jendala dunia
Yang bila dibuka
Maka dapat melihat dunia
Besrta horizon-horizonnya

Banyak anak bangsa yang sukses karnamu
Kau adalah………………
Sumber dari segala sumber ilmu……………

Kau adalah gudangnya ilmu
Jendela dunia dari pandangan menuju masa depan !!!!

Karya: marlinawati


Di bening matamu

Di bening mataku sepasang pipit terbang
Di langit jernih
Dengan pendar mentari pagi

Di bening mataku
Perahu-perahu melintas
Berlabuh dan berlayar

Di bening mataku
Mawar mngelopak indah
Berbalut binar embun
Mewarnai hari

Seribu musim sumringah
Bergenggaman tangan
Memeluk damai
Di bening mataku

Rinduku beralamat
Karena kutemukan damai di sana……………………………..
Karya: Lieoni. K


Dendam
Hancur, lenyap, musnah, habislah sudah junjungan diri
Api berkecamuk dalam hati dan jiwa
Menggenggam telapak tangan sambil menjerit

Apipun mulai merasuki seluruh jiwa perasaan ini
Menggoncang semua perasaan dalam sekejap dan
Apipun terus –terus dan terus merasuki dan membakar habis mata hati ini

Dengan pekatnya arang hitam menutupi celah-celah hati nurani
Mata menjadi gelap
Tak tersisa celah-celah cahaya haru

Mata hati dan nurani kacau
Taktersisa celah-celah cahaya kasih dan
Melepasskan hantaman api amarah yang tertahan selama bertahun-tahun

Amarah telah membludak, menyebar luas
Tertawa di atas darah-darah manusia
Namun umurpun hanyalah sebatas pohon bambu


Tapi api belumlah padam
Kau turunkan wasiat amarahmu pada anak dan cucumu
Kini giliran generasi penerusmu yang terakhir

Kini generasimu mulai tertekan, serba salah, antara menurut atau membangkang keinginan leluhur dan orang tua
Atau malah berpura-pura diantara muka-muka keluarga……????

Karya: Marlinawati