MentariKau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu di bumiku
Dan engkaulah itu…
Karya: Someone
Bunga
Bunga mati
sebelum wktunya
Meninggalkan tunas
baru
Akankah tunas
ini dapat merekah
Dengan indah????
Karya:
Marlinawati
Kabut
Tidak bisa
Tidak dapat
melihat
Aku tidak
dapat melihat
Kabut menutupi
pagiku
Tolonglah…
Langkah ini
tak mau berhenti
Hingga aku terperosok
Dalam lubang
yang masih
belum terlalu dalam
aku butuh
cahaya
KAU…
Kau yang di
sana sedari tadi
Ku mohon tolonglah
aku
Tidak kah kau
melihat lumpur yang menjijikkan ini??
Yang dengan
seenaknya menempel dan mengguyuri badanku
Bukan kah kau
ingin melihat wajahku???
Kau ingin melihat
wajahku???
Jangan pergi….!
Kau tak perlu
takut padaku
kau tak perlu
ragu…
Kemarilah… dan
mendekatlah padaku…
Bawakan aku
sependar cahaya… aku benar-benar butuh cahaya…
Untuk menerangi
hari-hariku…
Agar aku bisa
keluar dari kubangan lumpur
Yang
menjijikkan ini…
Karya:
Marlinawati
Buku
Lembar demi
lembar berisikan ilmu
Dengan segala
macam materi-materinya
Yang membuatku
tahu banyak hal
Kau sebagai
jendala dunia
Yang bila dibuka
Maka dapat
melihat dunia
Besrta
horizon-horizonnya
Banyak anak
bangsa yang sukses karnamu
Kau
adalah………………
Sumber dari
segala sumber ilmu……………
Kau adalah gudangnya
ilmu
Jendela dunia
dari pandangan menuju masa depan !!!!
Karya:
marlinawati
Di bening
matamu
Di bening
mataku sepasang pipit terbang
Di langit
jernih
Dengan pendar
mentari pagi
Di bening
mataku
Perahu-perahu
melintas
Berlabuh dan
berlayar
Di bening
mataku
Mawar
mngelopak indah
Berbalut binar
embun
Mewarnai hari
Seribu musim
sumringah
Bergenggaman
tangan
Memeluk damai
Di bening
mataku
Rinduku
beralamat
Karena
kutemukan damai di sana……………………………..
Karya: Lieoni.
K
Hancur, lenyap,
musnah, habislah sudah junjungan diri
Api berkecamuk
dalam hati dan jiwa
Menggenggam
telapak tangan sambil menjerit
Apipun mulai
merasuki seluruh jiwa perasaan ini
Menggoncang
semua perasaan dalam sekejap dan
Apipun terus
–terus dan terus merasuki dan membakar habis mata hati ini
Dengan
pekatnya arang hitam menutupi celah-celah hati nurani
Mata menjadi
gelap
Tak tersisa
celah-celah cahaya haru
Mata hati dan
nurani kacau
Taktersisa
celah-celah cahaya kasih dan
Melepasskan
hantaman api amarah yang tertahan selama bertahun-tahun
Amarah telah
membludak, menyebar luas
Tertawa di
atas darah-darah manusia
Namun umurpun
hanyalah sebatas pohon bambu
Tapi api
belumlah padam
Kau turunkan
wasiat amarahmu pada anak dan cucumu
Kini giliran
generasi penerusmu yang terakhir
Kini
generasimu mulai tertekan, serba salah, antara menurut atau membangkang
keinginan leluhur dan orang tua
Atau malah
berpura-pura diantara muka-muka keluarga……????
Karya:
Marlinawati



