Minggu, 25 Mei 2014

Dianggapkah Aku?


Suaraku tak mampu mengusik mereka
Senyum sapaku hanya sebagai keramah tamahan belaka
Opiniku hanya sebagai tes pendengaran belaka
Pertolonganku hanya sebagai penutup tirai belaka
Aku tahu
Aku memang tak sehebat sang juara di depan sana
Hei… para juara !! ya, kalian para juara yang berdiri di depan sana!
Bisakah kalian sedikit saja memperhatikan aku ketika aku berbicara?
Bisakah kalian melihat tanpa mata sinis?
Apakah aku salah jika aku berbicara?
Apakah aku tak boleh bicara?
Bukankah setiap orang berhak berbicara?
Dianggapkah aku?
Mengapa kalian hanya melihatku sebelah mata?
Apakah karna aku orang miskin?
Apakah karna aku tak pandai bergaul?
Apakah kehadiranku di sini hanya sebagai pengisi bangku kosong belaka?
Aku tahu bahwa aku hanya mempunyai sedikit kepandaian yang ukurannya tak sebesar butir pasir?
Apakah harga waktu dan karya ku hanya terbayar dengan sedikit rupiah dari kalian yang mampu memberi lebih?
Bisakah kalian lebih berterimakasih pada usahaku ini?
Apakah aku memang sebagai butiran pasir yang mengganggu?
Sehingga aku begitu merasa tersisih
BISAKAH KALIAN MEMPERHATIKAN BUTIRAN PASIR INI SEBENTAR SAJA?!

Membuka luka lagi




Merasa lebih dalam kisah laranya kehidupan
Lara yang seakan tak pernah usai
Emosi ingin memaki
Mengungkit dan memaki yang telah lalu sampai sekarang
Menyesakkan dada
Menggelapkan cahaya nurani yang dulunya penuh kasih
Membuat bunga kebencian semakin mekar
Dan siap menerbitkan tunas baru
Menjadi penyakit dalam hati yang menggrogoti jiwa yang suci
Meskipun maksud hati menutupi aib tetangga
Harta demi harta yang menjadi perdebatan
Jangan terlalu kejam!!!! Eling, mbok,,, eling,
Meskipun berbeda prinsip ketuhanannya!
Meskipun ingin kembali merebut kasih dari bunda terkasih
Sadarkanlah hati anakku ya Allah
Dinginkanlah kepalanya
Damaikanlah hatinya
Agar kembali hidup saling bersahaja tanpa pamrih
Sungguh tak ada hokum yang adil di dunia ini!
Kecuali dengan hukum resmi-Mu!
Amiin…

Mengingat kerinduan




Mutiara yang telah lama hilang
8 tahun sudah terlewati tanpa sedikit kilauanpun yang tampak
Sejak tumbuhnya tunas hingga dapat menjadi tempat peneduh
Teringat ketika ia ditimang
Dinyanyikan syair pengantar mimpi
Syair-syair nasehat hati
Hendak mendidik budi pekerti
Lantunan ayat-ayat suci tak terdengar lagi
Lafas adzan merdu tak berkumandang lagi
Cerita aktivitas sehari-hari tak terungkap lagi
Langkah kaki
Suara berlari
Lompattan riang
Tawa senyum riang tak terlihat lagi
Semua hanya tinggal kenangan tak berbingkai
Kabar demi kabar telah datang silih berganti
Ada yang membuat sumringah hati
Namun akhirnya membuat hati gelisah
Karna menanti kebenaran
Meski bukan maksud hati untuk meminta kepada selain diri-Mu
Namun keputus asaan telah lama menghampiri hati
Sungguh
Butir-butir do’a tanpa henti terucap
Menangis
Memohon
Merintih
Seakan ingin mengakhiri nafas
Ya Allah… jika ia masih hudup, pintalah ia untuk sejenak mengingatku!
Ingatkan bahwa ia harus pulang!
Ingatkan akan aku di sini yang selalu dan telah lelah menanti kepulangannya!
Katakan padanya bahwa aku telah kembali ke rumah!
Katakana bahwa aku selalu mengingat kerinduan akan hadirnya di sini, di rumah ini, di kamar ini, di setiap lorong rumah ini, di setiap jendela, di setiap pintu
Duduk di sampingku
Tapi… jika ia benar telah meninggal dunia tunjukkan aku di mana nisannya
Setidaknya pertemukanlah kami dalam mimpi yang indah, dan beri waktu tuk berbincang-bincang dengannya
Teruruskah badannya?
Bahagiakah dia?
Apakah makannya tercukupi?
Apakah ia telah memiliki keluarga?
Apakah mungkin… memang ia tak kan pernah kembali lagi?
Sungguh aku benar-benar ingin mengetahui nasibnya!
Sungguh
Mengingat kerinduan ini sungguh membuatku lelah
Bagai kehilangan separuh jiwa…
Tiada waktu tanpa mengingat kerinduan…
Ya Allah… aku mohon kepastian dari-Mu
Jangan biarkan rindu hanya sebatas ingatan
Pertemukanlah kami
Ingatkan aku akan sebuah kabar pasti di mana letaknya?
Agar rinduku ini sedikit beralamat!
Mengingat kerinduan … aku takut tak sanggup lagi untuk mengingat dan melihatnya karna mata ini telah terpejam

Pulang



Ramahnya fajar selalu membangunkan kami untuk segera melakukan aktivitas penyambung kehidupan. Ada seorang mbah yang sedari tadi hanya melamun dan terus menceritakan kisah lara kehidupan masa lalunya. Mbah ini bernama Kadar beliau nenek berusia -/+ 80 tahunan, beliau orang yang humoris dan lugu, suka ceplas-ceplos, dan yah sepertinya juga lumayan kolot. Si mbah kini tinggal di sebuah desa yang cukup sibuk ini bersama anak perempuannya dan cucunya, semenjak si suami anaknya wafat.
Setelah perahu fajar mulai meninggalkan pelabuhannya anaknya pun berangkat ke pasar dan melanjutkan aktivitas kehidupannya sebagai penjual sayur keliling, ia memulai aktivitasnya dengan berbelanja beberapa sayuran dan macam-macam lauk pauknya, route perjalanannya dari pasar, dan kampung ke kampung dan perjalanannya ini ia lakukan dengan berjalan kaki sampai berpuluh-puluh kilometer jaraknya batas waktu yang ia perlukan untuk membuat dagangannya habis terjual semua adalah saat di mana matahari benar-benar menandakan masuk waktunya dzuhur dan sampai ia pulang ke rumahnya.
______
“Piye Yus? Gelem gak? Nak gak kon Manto ae po? Po Manto kon tunggu omah kene? Kue ngontrakne mbek Manto, kono lah kabari Manto lah yo Yus. Aku ki lah pengen tenan balek rono. Sopo ngerti nang kono aku iso waras Yus gak sakit-sakitan koyok ngene, omah kae nak di kontrakne pasti rusak kulah, wong wingi ae tak delok lampune wes gak enek kabeh, amben-amben wes gak enek di dekek nang gudang kabeh amben ne”.
“Yo mak, aku ki sakjane males pindah-pindah kesel angkut-angkut, rono-rene nak gak ku mamak mbek Manto ae yo? nak gak mbek Manto yo mbek Nur”.
“Iyo kono lah kabari wong’e Yus. Mesakke omah sak mono gedene di tinggal kosong ae, mana rusak. Engko bapak marah, ki ae mau bengi aku mimpi ketemu bapak, bapak marah Yus omah’e di siok-siok ne gak di urus”.
“Iyo lah mak engko Manto tak kon balek sek tak omongi, nak manto gak gelem engko ben Nur ae yo? Mamak wani gak dewean nang kono”?
“Wani sih wani tapi sepi gak enek koncone, mboh nak Nur gelem ngancani nak bengi yo gelem aku. Kon rene lah Nur’e gelem po ra”?
______
“Gak oleh lah aku lungo, mertuo ku nak tak tinggal kewalahan de’e. akeh wong piye? Benlah mbak Yus ae ngopo”?
“Iyo rencana ku ki yo ngene, nak aku jadi pindah gone mamak omah ki tak kon nunggu Manto ben Manto ngontrak mbek aku. Engko duet’e tak kumpul ne ngge bangun omah seng apik. Berarti aku gakkan balek rene nak omh’e rong dadi. Omah kae juga perlu di rombak, ben apik lan nyaman aku moh nak omah’e jek lusuh koyok ngono”.
“Iyo, yo ngono lah,, gampang lah engko nak rep pindah neh ku gampang ae,, nak Budi wes balek, kue pindah ra popo Yus…”
“Iyo mak, kito nunggu Manto balek sek lah we, ben karuan nian”
______
“Mak, aku gelem wae, tapi Indy ki rong tamat TK ne, sek sui tamat’e,, bulan 6 engko baru tamat de’e mak, nak gelem yo nunggu Indy tamat lah, SPP ne wes lunas kabeh, sayang lah nak pindah sekolah”
“Laju kue ra gelem yo Manto?” yo wes, Yus kue ae lah Yus, nak omah’e arep di rombak sek yo rombak la,,, ndang golek tukang’e sopo, ben cepet. Kon Juki cs ae Yus,,”
“Iyo mak, Juki ku lah palingan mak,,, tapi de’e sek gae omah’e Mul kok,, rong rampong omah’e Mul kae”
“Kon nunda sek lah we,,, kon mandek sek gone Mul kui,, engko kan iso dilanjutne neh,,, omong lah karo Juki ne Yus,,,”
“Iyo mak, engko tak omong karo Mimin, mbek yuk Ti …”
“Iyo Yus omong lah, bahan’e kan ngepek sek engko gampanglah bayar’e, engko tak kon ngepek duet omah kontrakan gone tante ngarep kae wae,, kon potong lah piro-piro engko…”
______
“Iyo iso-iso aman wae,,, dino senen tak mulai kerjo ne”
“Ooh, Alhamdulillah nak langsung iso, jadi gone Mul pre noh? Nak kerjo gon kene…”
“Iyo lah, pre sek engko nak bar rampung gone mbah, baru lanjut neh gone Mul”
“Iyo oke. Senen yo? Aku mulai ngirim… kiro-kiro sue gak ki?”
“Gak nek sue, paling 2 minggu rampong,,, pokok’e engko tak rampongne nian, kabeh-kabeh, nak wes rampong kan riko gari pindah toh?”
“Iyo noh,, nak wes resik kabeh langsong pindah lah, pindah kabeh-kabeh”
______
Begitulah rundingan demi rundingan pun terjadi, setelah semua renofasi selesai akhirnya tepat pada tanggal 15 Maret 2014 keluarga tersebut memutuskan untuk pindah, atau lebih tepatnya lagi pulang ke rumah tua.
______
Seketika itu juga wajah si mbah terlihat sangat gembira, bak melepas rindu yang sudah lama tak bersua di paribaan senjanya saat ini. Yah memang rumah itu bigitu banyak menyimpan kenangan, setiap mentarinya ia lalui selama ini hanya tertuju pada kenengan suatu kisah lara kehidupan akan masa lalunya, masa-masa jayanya, masa-masa romansanya bersama kekasih pujaannya.
______
Kini hasrat pulangnya telah terpenuhi, rindunya tlah bersua masih saja ia meratapi, menyesali, berandai-andai, “andaikan dulu … andaikanlah … coba saja dulu …” disetiap mentarinya ia kembali pada lamunan kenangan akan sebuah kisah tentang “laranya kehidupan” dalam kepulangannya.
______
TAMAT