Di antara Dua Cinta (Part 2)
Di warung bakso…
“Sebenarnya aku ada
rahasia tersembunyi nih…” ujarnya membuat ku penasaran saja. “Apa sih? Udah
tekdung loh?” Aku asal ngomong saja. “Loh kok kamu tahu?” Yah.. aku memang
sudah sedikit curiga, karena kalo ke mana-mana ia selalu memakai korslet untuk
menutupi perutnya yang sudah berisikan janin itu. Ternyata kecurigaanku benar
kan kalo Ani sedang hamil “Anak siapa tuh? Tomy apa Heri?” Godaku. Yah Heri
lah… justru aku kenal sama Tomy tuh karena ini…” ujarnya padaku. Maksudnya?
Tanya ku lagi. “iya, Tomy itu orang yang mau membantu menggugurka kandungan ku
ini, tapi tidak berhasil. “Owh… jadi kamu sudah berniat menggugurkan anak mu
ini ya?” seru ku sedatar mungkin. Aku pikir hal itu biasa, aku tidak begitu
terkejut karena aku tahu bagaimana Ani. Ia pasti akan mengambil langkah itu.
Bukannya aku tidak peduli dengan temanku, aku hanya tidak ingin larut dalam
kisahnya yang akan membuatku memaki. Aku tidak mau merusak pikiran ku tentang
hal ini. Nasehat yang ku berikan standar saja. “ Jangan digugurkan lah, itu
anakmu. Jaga baik-baik, jaga kata-kata, ajari hal yang baik karena dari mulai
ditiupkan ruh, anak itu sudah mengerti benar apa yang dirasakan ibunya, apa
yang dipikirkan ibunya ia tahu itu.” Jelasku. “iya deh… Tapi kok heran ya? Udah
pakek dokter aborsi, dukun, orang pinter/paranormal gak berhasil juga
digugurin. Bahkan aku sudah habis uang 20 juta lebih demi menggugurkan anak
ini. Makan pedas-pedas udah, minum jamu udah, obat ini obat itu udah, aku
sengaja pakek baju sesempit ini, bahkan aku bela-belain pakek korslet tapi
tetap saja tidak berhasil, tidak mengubah apa pun. Bahkan janin ini mau di
buang ke laut selatan oleh neneknya Tomy, tapi gagal dan esok harinya aku
mendengar kabar bahwa neneknya Tomy meninggal setelah kejadian itu.” Jelasnya
padaku. Berarti anak mu anak yang kuat ya… jagoan tuh… heee. Jawabku, aku
berusaha santai. “Jagoan apa? Ini anak cewek tau!” jawab Ani. Tahu dari mana
kalo tuh anak cewek?” Tanya ku, lagi-lagi aku berusaha menahan diri agar tidak
memaki. “Dari Tomy lah, Tomy kan orang pinter/paranormal” jawab Ani. “oh iya
ya… orang rumah dah tahu belum? Tante, nenek sama kakek mu sudah tahu ya?”
Tanya ku lagi. “Sudah, mereka sudah tahu semuanya… gini ceritanya, tanteku
curiga karena melihat postur tubuhku sudah sangat berbeda. saat ditanya aku
tidak mengaku dan berusaha mengelak. Namun ternyata tanteku mencari tahu dengan
cara bertanya pada salah satu orang pinter kepercayaannya, dan akhirnya aku pun
ketahuan kalu aku sudah hamil, dan aku tak dapat mengelak lagi. Terus, Heri
dipanggil ke rumah, dan akhirnya kami di suruh cepat menikah dan tanggalnya pun
sudah di persiapkan, bahkan kakek ku pergi ke kampungnya Heri untuk
membicarakan rencana pernikahan kami, karena sudah ketahuan jadi pernikahanku
dengan Heri dipercepat”. Jelasnya. “Iya memang harus seperti itu Ani… mereka
marah tidak? Tanyaku. “Nggak kok, Fatin. Mereka gak ada yang marah padaku malah
aku yang ngambek”. Cetus Ani. “Loh kenapa?” tanyaku. “Gak tahu nih, aku lagi
mikirin Tomy nih…” keluhnya. “Kok malah mikirin Tomy sih? Kan mau menikah? Gak
seharusnya kamu memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah mau menikah Ani… kamu
gak boleh seperti itu Ani.” Kataku pada Ani. Lagi-lagi aku berusaha sedatar
mungkin, tak mau larut dalam kisah Ani ini. Suasana pun hening untuk waktu yang
cukup lama. Hingga pesanan bakso yang kami tunggu tiba. Kami sama-sama
menikmati bakso jumbo yang telah dipesan ini. “Huuuf… cabenya kali ini pedes
banget… lebih pedes dari biasanya nih...” Kataku tiba-tiba memecahkan
keheningan ini, walaupun aku tak ingin larut dalam kisah Ani, tapi aku juga tak
mau larut dalam suasana keheningan seperti ini yang akan membuat pikiranku
larut dalam kisah Ani. “Iya ya … mana aku gak bisa makan macem-macem lagi nih,
gak bisa makan sambel banyak-banyak nih…” cetus Ani. “Iya lah, kan kamu lagi
hamil… oh ya, Tomy dah tahu kalo kamu mau menikah? Tanyaku. Sekedar ingin tahu
ceritanya saja. “Sudah kok, Tomy udah tahu… terus terang saja, aku sudah
beberapa hari tak menjawab smsnya, juga telponnya, karena aku ingin
perlahan-lahan melupakannya tapi… rasanya sangat sulit sekali melupakannya… akhirnya
pun aku membalas sms darinya. Aku minta maaf karena tak membalas smsnya, itu
karena aku sibuk fiting baju pernikahan, dan menyiapkan pernikahan kata ku
padanya. Ia malah mengira bahwa aku sudah lupa padanya, sebenarnya aku sama
sekali tidak sibuk, aku sangat merindukannya. Aku sudah berusaha untuk
melupakannya tapi aku malah semakin lama aku semakin rindu, semakin sayang dan
cinta sama Tomy… Lalu bagaimana?” tanyaku bingung harus berkomentar apa? Aku
hanya berusaha menjadi pendengar yang baik baginya.
Bersambung…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar