Sabtu, 29 Maret 2014

Diantara Dua Cinta( Part 2)






Di antara Dua Cinta (Part 2)

Di warung bakso…
“Sebenarnya aku ada rahasia tersembunyi nih…” ujarnya membuat ku penasaran saja. “Apa sih? Udah tekdung loh?” Aku asal ngomong saja. “Loh kok kamu tahu?” Yah.. aku memang sudah sedikit curiga, karena kalo ke mana-mana ia selalu memakai korslet untuk menutupi perutnya yang sudah berisikan janin itu. Ternyata kecurigaanku benar kan kalo Ani sedang hamil “Anak siapa tuh? Tomy apa Heri?” Godaku. Yah Heri lah… justru aku kenal sama Tomy tuh karena ini…” ujarnya padaku. Maksudnya? Tanya ku lagi. “iya, Tomy itu orang yang mau membantu menggugurka kandungan ku ini, tapi tidak berhasil. “Owh… jadi kamu sudah berniat menggugurkan anak mu ini ya?” seru ku sedatar mungkin. Aku pikir hal itu biasa, aku tidak begitu terkejut karena aku tahu bagaimana Ani. Ia pasti akan mengambil langkah itu. Bukannya aku tidak peduli dengan temanku, aku hanya tidak ingin larut dalam kisahnya yang akan membuatku memaki. Aku tidak mau merusak pikiran ku tentang hal ini. Nasehat yang ku berikan standar saja. “ Jangan digugurkan lah, itu anakmu. Jaga baik-baik, jaga kata-kata, ajari hal yang baik karena dari mulai ditiupkan ruh, anak itu sudah mengerti benar apa yang dirasakan ibunya, apa yang dipikirkan ibunya ia tahu itu.” Jelasku. “iya deh… Tapi kok heran ya? Udah pakek dokter aborsi, dukun, orang pinter/paranormal gak berhasil juga digugurin. Bahkan aku sudah habis uang 20 juta lebih demi menggugurkan anak ini. Makan pedas-pedas udah, minum jamu udah, obat ini obat itu udah, aku sengaja pakek baju sesempit ini, bahkan aku bela-belain pakek korslet tapi tetap saja tidak berhasil, tidak mengubah apa pun. Bahkan janin ini mau di buang ke laut selatan oleh neneknya Tomy, tapi gagal dan esok harinya aku mendengar kabar bahwa neneknya Tomy meninggal setelah kejadian itu.” Jelasnya padaku. Berarti anak mu anak yang kuat ya… jagoan tuh… heee. Jawabku, aku berusaha santai. “Jagoan apa? Ini anak cewek tau!” jawab Ani. Tahu dari mana kalo tuh anak cewek?” Tanya ku, lagi-lagi aku berusaha menahan diri agar tidak memaki. “Dari Tomy lah, Tomy kan orang pinter/paranormal” jawab Ani. “oh iya ya… orang rumah dah tahu belum? Tante, nenek sama kakek mu sudah tahu ya?” Tanya ku lagi. “Sudah, mereka sudah tahu semuanya… gini ceritanya, tanteku curiga karena melihat postur tubuhku sudah sangat berbeda. saat ditanya aku tidak mengaku dan berusaha mengelak. Namun ternyata tanteku mencari tahu dengan cara bertanya pada salah satu orang pinter kepercayaannya, dan akhirnya aku pun ketahuan kalu aku sudah hamil, dan aku tak dapat mengelak lagi. Terus, Heri dipanggil ke rumah, dan akhirnya kami di suruh cepat menikah dan tanggalnya pun sudah di persiapkan, bahkan kakek ku pergi ke kampungnya Heri untuk membicarakan rencana pernikahan kami, karena sudah ketahuan jadi pernikahanku dengan Heri dipercepat”. Jelasnya. “Iya memang harus seperti itu Ani… mereka marah tidak? Tanyaku. “Nggak kok, Fatin. Mereka gak ada yang marah padaku malah aku yang ngambek”. Cetus Ani. “Loh kenapa?” tanyaku. “Gak tahu nih, aku lagi mikirin Tomy nih…” keluhnya. “Kok malah mikirin Tomy sih? Kan mau menikah? Gak seharusnya kamu memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah mau menikah Ani… kamu gak boleh seperti itu Ani.” Kataku pada Ani. Lagi-lagi aku berusaha sedatar mungkin, tak mau larut dalam kisah Ani ini. Suasana pun hening untuk waktu yang cukup lama. Hingga pesanan bakso yang kami tunggu tiba. Kami sama-sama menikmati bakso jumbo yang telah dipesan ini. “Huuuf… cabenya kali ini pedes banget… lebih pedes dari biasanya nih...” Kataku tiba-tiba memecahkan keheningan ini, walaupun aku tak ingin larut dalam kisah Ani, tapi aku juga tak mau larut dalam suasana keheningan seperti ini yang akan membuat pikiranku larut dalam kisah Ani. “Iya ya … mana aku gak bisa makan macem-macem lagi nih, gak bisa makan sambel banyak-banyak nih…” cetus Ani. “Iya lah, kan kamu lagi hamil… oh ya, Tomy dah tahu kalo kamu mau menikah? Tanyaku. Sekedar ingin tahu ceritanya saja. “Sudah kok, Tomy udah tahu… terus terang saja, aku sudah beberapa hari tak menjawab smsnya, juga telponnya, karena aku ingin perlahan-lahan melupakannya tapi… rasanya sangat sulit sekali melupakannya… akhirnya pun aku membalas sms darinya. Aku minta maaf karena tak membalas smsnya, itu karena aku sibuk fiting baju pernikahan, dan menyiapkan pernikahan kata ku padanya. Ia malah mengira bahwa aku sudah lupa padanya, sebenarnya aku sama sekali tidak sibuk, aku sangat merindukannya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi aku malah semakin lama aku semakin rindu, semakin sayang dan cinta sama Tomy… Lalu bagaimana?” tanyaku bingung harus berkomentar apa? Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik baginya.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar