Di
Antara Dua Cinta (Part 3)
____
From:
Tomy
“Mengapa
kamu berubah?? Apa kamu sudah tak ingat lagi padaku? Apak kamu sudah tidak
mencintai aku lagi Ani? Apa kamu sudah benar-benar telah melupakan aku? Kau begitu
tega pada ku Ani… Kamu tahu kalau aku sakit kan? Mana janji mu ? kau bilang
ingin membantu ku? Kau bilang bulan February ini ada dana untuk ku… kau hanya pandai
bicara saja! kau tahu kan nyawaku sekarang ada di tanganmu yank…
“Loh?
Maksudnya ni apa Ani? Tomy minta dana? Dana buat apa? Trus kenapa dia bilang
kalo nyawanya ada di tangan mu?” Ani memperlihatkan sms dari Tomy pada ku. “iya
Fatin, katanya Tomy, ia sedang sakit parah, ada sebuah benjolan di kepalanya.
Tomy bilang ia mau dioperasi, dan aku janji untuk membantunya meminjamkan uang
untuk biaya operasinya. Aku bilang padanya aku bisa bantu, dan bulan February
ini aku janji untuk meminjamkan uang pada Tomy. Tapi karena keadaanku yang
seperti ini aku tidak bisa membantunya, apa lagi setelah kehamilanku ketahuan
oleh keluargaku. Apalagi rencana pernikahanku dipercepat, sekarang aku harus
bagaimana Fatin? Awalnya ia mengatakan ia yang akan bertanggung jawab atasa
kehamilanku ini dan ia mau menikahiku ia ingin menjadi ayahdari anak yang ku
kandung ini. Tapi aku menolaknya. Aku telah menjelaskan semuanya pada Tomy,
tapi dia tak mau mengerti dan Tomy malah marah-marah padaku. Aku benar-benar
bingun… tak tahu harus bagaimana, mendengar dia berkata seperti itu aku semakin
sedih… aku takut terjadi apa-apa pada Tomy, aku takut kalau penyakit yang
dideritanya adalah penyakit yang serius yang sewaktu-waktu bisa merenggut
nyawanya.” Jelas Ani dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha
untuk tidak menangis di depanku tapi aku tahu kalau Ani sangat sedih dan kami
berdua terdiam untuk waktu yang sangat lama aku yang sedari tadi mendengar ceritanya
tak kuasa berkata apa-apa hanya tertegun dan diam dalam hati ku berkata kamu
itu bodoh ya! Padahal di sampingmu sudah ada laki-laki baik yang mencintai kamu
dengan tulus, dan bertanggung jawab ia tak pernah mengeluh selalu bekerja keras
demi dirimu seorang tapi kamu malah mengkhianatinya selingkuh dengan laki-laki
lain yang baru kamu kenal. Memang cinta tak pernah salah karena setiap manusia
pasti memiliki rasa cinta. Mungkin ini yang disebut cinta buta (cinta tidak
buta tapi melumpuhkan logika by:MtGw). Sepertinya aku mulai larut dalam
kisahnya, dan mulai memaki tapi aku tetap berusaha menahan diri agar aku tak
smebarangan bicara yang akan membuatnya tersinggung aku berusaha untuk tetap
tenang dan menaggapinya sedatar mungkin. “Hmmm… lalu?” tanyaku seraya
menyeruput secangkir wedang hangat di meja. Ia hanya diam tak menjawab apa-apa,
aku tak betah melihat keadaan yang membisu ini karena itu aku pamit pulang
mengingat hari sudah malam. “Ya sudah, kamu sabar aja ya… jangan menangis terus
nanti kamu bisa sakit kamu harus memikirkan anakmu juga kasihan dia ini sudah
malam, aku pamit pulang dulu ya dan kamu istirahat ya Ani nanti kita lanjutkan
lagi”. Aku langsung mengambil helm dan menghidupkan motorku, di perjalanan aku
kembali membayangkan ceritanya tadi sebenarnya masih banyak yang ingin aku
tanyakan pada Ani hanya saja situasi tidak nyaman jadi, aku memilih menyimpan
semua deretan pertanyaanku untuk esok hari jika ada waktu. Belum sempat aku
sampai di rumah hp ku berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Aku tahu ini pasti
dari Ani. Tapi aku memilih membukanya nanti saja saat sudah sampai di rumah.
____
From:
Ani
“Setiap
kali aku ingat dia aku semakin sedih, hatiku sakit sekali rasanya aku tak
bersemangat lagi, aku seperti orang linglung sama sekali tidak tahu harus
melakukan apa? Aku jadi malas melakukan apa-apa.
To:
Ani
“Memangnya
dia itu sakit ap sih? Kok sampek mau
dioperasi segala?”
From:
Ani
“Aku
tidak tahu, Tomy hanya bilang kalau di kepalanya ada benjolan, katanya sakit
sekali jika kambuh ia bisa sampe pingsan”
To:
Ani
“Kamu
sudah coba bertanya pada Tomy tentang penyakitnya itu? Apa keluarganya tidak
tahu kalau Tomy sakit?”
From:
Ani
“Tentu
saja orang tuanya tahu kalau Tomy sedang sakit seperti itu, katanya keluarganya
sudah pasrah karena mereka tidak punya uang untuk membiayai operasinya”
To:
Ani
“Lalu?
Hmmm… oh ya, sekarang kandungan mu itu sudah masuk berapa bulan sih?”
From:
Ani
“Aku
ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin mendengarkan dari mulutnya sendiri
apa benar dia sakit? Kandungan ku sekarang sudah hampir memasuki 7 bulan Fatin…
To:
Ani
“Kapan
kamu akan menemuinya?”
From:
Ani
“Rencananya
hari ini aku akan menemuinya. Sekarang aku sedang sms-an sama Tomy. Do’akan ya…
semoga aja hari ini bisa, aku benar-benar harus bertemu dengannya aku sangat
merindukannya aku sangaat khawatir dengan keadaannya… aku harus menemuinya hari
ini.”
____
Mentari
hari ini nampaknya masih enggan menampak gelora apinya. Seharian tanah ini
terus diguyur hujan. Awan selalu menyisahkan tangisan gerimis kecil, angin yang
semakin lama semakin deras, langit semakin gelap seakan mewakili perasaan Ani
yang pada hari ini ia berencana bertemu dengan Tomy. Aku beranjak menyusuri
jalan raya menuju ke sebuah apotek yang berada di belakang sebuah bangunan mall
yang tengah berdiri kokoh. Tak banyak orang lalulalang di sana, para pedagang
kios pun sudah mulai ingin menutup kiosnya yah… mungkin karena cuaca seperti
ini yang membuat mereka memilih berdiam diri di rumah atau memang sudah pulang
dari bekerja mengingat hari ini sudah pukul 04.00 pm. aku mulai memarkirkan
motorku, dan di tengah mendung ini aku melihat sesosok yang tersenyum ceria
menyambut kedatanganku, raut seceria ini, senyum seceria ini akankan dapat
bertahan menghiasi ekspresi wajahnya jika ia tahu bahwa sang kekasih telah mengkhianatinya.
Dulu cintanya sudah pernah terbunuh, tapi kini telah bangkit kembali mungkinkah
cintanya akan kembali terbunuh seperti dulu? Dan bila itu terjadi apakah ia
harus mengemis cinta dari seseorang yang telah menyia-nyiakan cintanya? Yah…
benar sesosok yang memiliki senyum ceria itu adalah Heri tunangan Ani.ia
bekerja di sebuah apotek swasta aku sering ke sana untuk membeli obat dan hari
ini kebetulan aku ke sana. “Eh, Fatin cari apa? Sapa Heri padaku. “Ini biasa,
captopilnya sama antasida masing-masing 4 keping ya..” jawabku sambil
memperlihatkan contoh obat yang aku bawa. Heri langsung mengambilnya dan tak
lama kemudian Heri kembali dan memberi obatnya padaku. Tak terjadi percakapan
serius dengannya hanya percakapan selayaknya antara penjual dan pembeli biasa
setelah itu aku langsung tancap gas lagi menuju istana tempat tinggalku. Heee…
____
Ani
menceritakan hasil pertemuannya dengan Tomy hari ini ia mengatakan padaku bahwa
Tomy mengidap penyakit yang serius tapi tetap saja Tomy tak mau memberitahukan
tentang penyakitnya itu. Lagi-lagi ia hanya berkata kalu di kepalanya terdapat
sebuah benjolan kira-kira letak benjolannya di bawah bagian otak kecil tomy
mengatakannya sambil menangis begitu juga dengan Ani ia menangis sampai
sesegrukan.
____
28 February
Yah 28 February, hari
intu adalah hari pernikahan Ani dan Heri, aku datang dan melihat senyum yang
terlihat seperti tangisan. Benar meskipun Ani memutuskan untuk tetap menikahi
Heri. Ia mengarungi rumah tangga dengan dua cinta…. Tapi Dua cinta tidak mungkin bersama........


