Sabtu, 29 Maret 2014

Diantara Dua Cinta (Part 3)




Di Antara Dua Cinta (Part 3)
____
From: Tomy
“Mengapa kamu berubah?? Apa kamu sudah tak ingat lagi padaku? Apak kamu sudah tidak mencintai aku lagi Ani? Apa kamu sudah benar-benar telah melupakan aku? Kau begitu tega pada ku Ani… Kamu tahu kalau aku sakit kan? Mana janji mu ? kau bilang ingin membantu ku? Kau bilang bulan February ini ada dana untuk ku… kau hanya pandai bicara saja! kau tahu kan nyawaku sekarang ada di tanganmu yank…
“Loh? Maksudnya ni apa Ani? Tomy minta dana? Dana buat apa? Trus kenapa dia bilang kalo nyawanya ada di tangan mu?” Ani memperlihatkan sms dari Tomy pada ku. “iya Fatin, katanya Tomy, ia sedang sakit parah, ada sebuah benjolan di kepalanya. Tomy bilang ia mau dioperasi, dan aku janji untuk membantunya meminjamkan uang untuk biaya operasinya. Aku bilang padanya aku bisa bantu, dan bulan February ini aku janji untuk meminjamkan uang pada Tomy. Tapi karena keadaanku yang seperti ini aku tidak bisa membantunya, apa lagi setelah kehamilanku ketahuan oleh keluargaku. Apalagi rencana pernikahanku dipercepat, sekarang aku harus bagaimana Fatin? Awalnya ia mengatakan ia yang akan bertanggung jawab atasa kehamilanku ini dan ia mau menikahiku ia ingin menjadi ayahdari anak yang ku kandung ini. Tapi aku menolaknya. Aku telah menjelaskan semuanya pada Tomy, tapi dia tak mau mengerti dan Tomy malah marah-marah padaku. Aku benar-benar bingun… tak tahu harus bagaimana, mendengar dia berkata seperti itu aku semakin sedih… aku takut terjadi apa-apa pada Tomy, aku takut kalau penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang serius yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya.” Jelas Ani dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha untuk tidak menangis di depanku tapi aku tahu kalau Ani sangat sedih dan kami berdua terdiam untuk waktu yang sangat lama aku yang sedari tadi mendengar ceritanya tak kuasa berkata apa-apa hanya tertegun dan diam dalam hati ku berkata kamu itu bodoh ya! Padahal di sampingmu sudah ada laki-laki baik yang mencintai kamu dengan tulus, dan bertanggung jawab ia tak pernah mengeluh selalu bekerja keras demi dirimu seorang tapi kamu malah mengkhianatinya selingkuh dengan laki-laki lain yang baru kamu kenal. Memang cinta tak pernah salah karena setiap manusia pasti memiliki rasa cinta. Mungkin ini yang disebut cinta buta (cinta tidak buta tapi melumpuhkan logika by:MtGw). Sepertinya aku mulai larut dalam kisahnya, dan mulai memaki tapi aku tetap berusaha menahan diri agar aku tak smebarangan bicara yang akan membuatnya tersinggung aku berusaha untuk tetap tenang dan menaggapinya sedatar mungkin. “Hmmm… lalu?” tanyaku seraya menyeruput secangkir wedang hangat di meja. Ia hanya diam tak menjawab apa-apa, aku tak betah melihat keadaan yang membisu ini karena itu aku pamit pulang mengingat hari sudah malam. “Ya sudah, kamu sabar aja ya… jangan menangis terus nanti kamu bisa sakit kamu harus memikirkan anakmu juga kasihan dia ini sudah malam, aku pamit pulang dulu ya dan kamu istirahat ya Ani nanti kita lanjutkan lagi”. Aku langsung mengambil helm dan menghidupkan motorku, di perjalanan aku kembali membayangkan ceritanya tadi sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan pada Ani hanya saja situasi tidak nyaman jadi, aku memilih menyimpan semua deretan pertanyaanku untuk esok hari jika ada waktu. Belum sempat aku sampai di rumah hp ku berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Aku tahu ini pasti dari Ani. Tapi aku memilih membukanya nanti saja saat sudah sampai di rumah.
____
From: Ani
“Setiap kali aku ingat dia aku semakin sedih, hatiku sakit sekali rasanya aku tak bersemangat lagi, aku seperti orang linglung sama sekali tidak tahu harus melakukan apa? Aku jadi malas melakukan apa-apa.
To: Ani
“Memangnya dia itu sakit ap sih?  Kok sampek mau dioperasi segala?”
From: Ani
“Aku tidak tahu, Tomy hanya bilang kalau di kepalanya ada benjolan, katanya sakit sekali jika kambuh ia bisa sampe pingsan”
To: Ani
“Kamu sudah coba bertanya pada Tomy tentang penyakitnya itu? Apa keluarganya tidak tahu kalau Tomy sakit?”
From: Ani
“Tentu saja orang tuanya tahu kalau Tomy sedang sakit seperti itu, katanya keluarganya sudah pasrah karena mereka tidak punya uang untuk membiayai operasinya”
To: Ani
“Lalu? Hmmm… oh ya, sekarang kandungan mu itu sudah masuk berapa bulan sih?”
From: Ani
“Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin mendengarkan dari mulutnya sendiri apa benar dia sakit? Kandungan ku sekarang sudah hampir memasuki 7 bulan Fatin…
To: Ani
“Kapan kamu akan menemuinya?”
From: Ani
“Rencananya hari ini aku akan menemuinya. Sekarang aku sedang sms-an sama Tomy. Do’akan ya… semoga aja hari ini bisa, aku benar-benar harus bertemu dengannya aku sangat merindukannya aku sangaat khawatir dengan keadaannya… aku harus menemuinya hari ini.”

____
Mentari hari ini nampaknya masih enggan menampak gelora apinya. Seharian tanah ini terus diguyur hujan. Awan selalu menyisahkan tangisan gerimis kecil, angin yang semakin lama semakin deras, langit semakin gelap seakan mewakili perasaan Ani yang pada hari ini ia berencana bertemu dengan Tomy. Aku beranjak menyusuri jalan raya menuju ke sebuah apotek yang berada di belakang sebuah bangunan mall yang tengah berdiri kokoh. Tak banyak orang lalulalang di sana, para pedagang kios pun sudah mulai ingin menutup kiosnya yah… mungkin karena cuaca seperti ini yang membuat mereka memilih berdiam diri di rumah atau memang sudah pulang dari bekerja mengingat hari ini sudah pukul 04.00 pm. aku mulai memarkirkan motorku, dan di tengah mendung ini aku melihat sesosok yang tersenyum ceria menyambut kedatanganku, raut seceria ini, senyum seceria ini akankan dapat bertahan menghiasi ekspresi wajahnya jika ia tahu bahwa sang kekasih telah mengkhianatinya. Dulu cintanya sudah pernah terbunuh, tapi kini telah bangkit kembali mungkinkah cintanya akan kembali terbunuh seperti dulu? Dan bila itu terjadi apakah ia harus mengemis cinta dari seseorang yang telah menyia-nyiakan cintanya? Yah… benar sesosok yang memiliki senyum ceria itu adalah Heri tunangan Ani.ia bekerja di sebuah apotek swasta aku sering ke sana untuk membeli obat dan hari ini kebetulan aku ke sana. “Eh, Fatin cari apa? Sapa Heri padaku. “Ini biasa, captopilnya sama antasida masing-masing 4 keping ya..” jawabku sambil memperlihatkan contoh obat yang aku bawa. Heri langsung mengambilnya dan tak lama kemudian Heri kembali dan memberi obatnya padaku. Tak terjadi percakapan serius dengannya hanya percakapan selayaknya antara penjual dan pembeli biasa setelah itu aku langsung tancap gas lagi menuju istana tempat tinggalku. Heee…
____
Ani menceritakan hasil pertemuannya dengan Tomy hari ini ia mengatakan padaku bahwa Tomy mengidap penyakit yang serius tapi tetap saja Tomy tak mau memberitahukan tentang penyakitnya itu. Lagi-lagi ia hanya berkata kalu di kepalanya terdapat sebuah benjolan kira-kira letak benjolannya di bawah bagian otak kecil tomy mengatakannya sambil menangis begitu juga dengan Ani ia menangis sampai sesegrukan.
____
28 February
Yah 28 February, hari intu adalah hari pernikahan Ani dan Heri, aku datang dan melihat senyum yang terlihat seperti tangisan. Benar meskipun Ani memutuskan untuk tetap menikahi Heri. Ia mengarungi rumah tangga dengan dua cinta…. Tapi  Dua cinta tidak mungkin bersama........

Diantara Dua Cinta( Part 2)






Di antara Dua Cinta (Part 2)

Di warung bakso…
“Sebenarnya aku ada rahasia tersembunyi nih…” ujarnya membuat ku penasaran saja. “Apa sih? Udah tekdung loh?” Aku asal ngomong saja. “Loh kok kamu tahu?” Yah.. aku memang sudah sedikit curiga, karena kalo ke mana-mana ia selalu memakai korslet untuk menutupi perutnya yang sudah berisikan janin itu. Ternyata kecurigaanku benar kan kalo Ani sedang hamil “Anak siapa tuh? Tomy apa Heri?” Godaku. Yah Heri lah… justru aku kenal sama Tomy tuh karena ini…” ujarnya padaku. Maksudnya? Tanya ku lagi. “iya, Tomy itu orang yang mau membantu menggugurka kandungan ku ini, tapi tidak berhasil. “Owh… jadi kamu sudah berniat menggugurkan anak mu ini ya?” seru ku sedatar mungkin. Aku pikir hal itu biasa, aku tidak begitu terkejut karena aku tahu bagaimana Ani. Ia pasti akan mengambil langkah itu. Bukannya aku tidak peduli dengan temanku, aku hanya tidak ingin larut dalam kisahnya yang akan membuatku memaki. Aku tidak mau merusak pikiran ku tentang hal ini. Nasehat yang ku berikan standar saja. “ Jangan digugurkan lah, itu anakmu. Jaga baik-baik, jaga kata-kata, ajari hal yang baik karena dari mulai ditiupkan ruh, anak itu sudah mengerti benar apa yang dirasakan ibunya, apa yang dipikirkan ibunya ia tahu itu.” Jelasku. “iya deh… Tapi kok heran ya? Udah pakek dokter aborsi, dukun, orang pinter/paranormal gak berhasil juga digugurin. Bahkan aku sudah habis uang 20 juta lebih demi menggugurkan anak ini. Makan pedas-pedas udah, minum jamu udah, obat ini obat itu udah, aku sengaja pakek baju sesempit ini, bahkan aku bela-belain pakek korslet tapi tetap saja tidak berhasil, tidak mengubah apa pun. Bahkan janin ini mau di buang ke laut selatan oleh neneknya Tomy, tapi gagal dan esok harinya aku mendengar kabar bahwa neneknya Tomy meninggal setelah kejadian itu.” Jelasnya padaku. Berarti anak mu anak yang kuat ya… jagoan tuh… heee. Jawabku, aku berusaha santai. “Jagoan apa? Ini anak cewek tau!” jawab Ani. Tahu dari mana kalo tuh anak cewek?” Tanya ku, lagi-lagi aku berusaha menahan diri agar tidak memaki. “Dari Tomy lah, Tomy kan orang pinter/paranormal” jawab Ani. “oh iya ya… orang rumah dah tahu belum? Tante, nenek sama kakek mu sudah tahu ya?” Tanya ku lagi. “Sudah, mereka sudah tahu semuanya… gini ceritanya, tanteku curiga karena melihat postur tubuhku sudah sangat berbeda. saat ditanya aku tidak mengaku dan berusaha mengelak. Namun ternyata tanteku mencari tahu dengan cara bertanya pada salah satu orang pinter kepercayaannya, dan akhirnya aku pun ketahuan kalu aku sudah hamil, dan aku tak dapat mengelak lagi. Terus, Heri dipanggil ke rumah, dan akhirnya kami di suruh cepat menikah dan tanggalnya pun sudah di persiapkan, bahkan kakek ku pergi ke kampungnya Heri untuk membicarakan rencana pernikahan kami, karena sudah ketahuan jadi pernikahanku dengan Heri dipercepat”. Jelasnya. “Iya memang harus seperti itu Ani… mereka marah tidak? Tanyaku. “Nggak kok, Fatin. Mereka gak ada yang marah padaku malah aku yang ngambek”. Cetus Ani. “Loh kenapa?” tanyaku. “Gak tahu nih, aku lagi mikirin Tomy nih…” keluhnya. “Kok malah mikirin Tomy sih? Kan mau menikah? Gak seharusnya kamu memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah mau menikah Ani… kamu gak boleh seperti itu Ani.” Kataku pada Ani. Lagi-lagi aku berusaha sedatar mungkin, tak mau larut dalam kisah Ani ini. Suasana pun hening untuk waktu yang cukup lama. Hingga pesanan bakso yang kami tunggu tiba. Kami sama-sama menikmati bakso jumbo yang telah dipesan ini. “Huuuf… cabenya kali ini pedes banget… lebih pedes dari biasanya nih...” Kataku tiba-tiba memecahkan keheningan ini, walaupun aku tak ingin larut dalam kisah Ani, tapi aku juga tak mau larut dalam suasana keheningan seperti ini yang akan membuat pikiranku larut dalam kisah Ani. “Iya ya … mana aku gak bisa makan macem-macem lagi nih, gak bisa makan sambel banyak-banyak nih…” cetus Ani. “Iya lah, kan kamu lagi hamil… oh ya, Tomy dah tahu kalo kamu mau menikah? Tanyaku. Sekedar ingin tahu ceritanya saja. “Sudah kok, Tomy udah tahu… terus terang saja, aku sudah beberapa hari tak menjawab smsnya, juga telponnya, karena aku ingin perlahan-lahan melupakannya tapi… rasanya sangat sulit sekali melupakannya… akhirnya pun aku membalas sms darinya. Aku minta maaf karena tak membalas smsnya, itu karena aku sibuk fiting baju pernikahan, dan menyiapkan pernikahan kata ku padanya. Ia malah mengira bahwa aku sudah lupa padanya, sebenarnya aku sama sekali tidak sibuk, aku sangat merindukannya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi aku malah semakin lama aku semakin rindu, semakin sayang dan cinta sama Tomy… Lalu bagaimana?” tanyaku bingung harus berkomentar apa? Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik baginya.
Bersambung…

Diantara Dua Cinta





Diantara Dua Cinta (Part 1)

Tak terasa sore menjelma senja, sajikan panorama langit berwarna jingga, bersambut semilir angin yang mulai menggetarkan bulu rona. Nuansa hari ini sangat jernih sama seperti kemarin sobat, senyum dan canda terukir jelas di tanah ini. Suasana yang ramai, anak-anak berlarian dengan riang untuk segera berangkat sholat maghrib di masjid. dan aku pun segera bersiap mengikuti langkah-langkah kecil yang telah mendahului langkahku.
____
Setelah itu aku pulang ke rumah.. “Treet… teet… treet… teet…“ HP ku berdering, dan aku menerima SMS dari sahabatku Ani. Aku dan Ani sudah berteman sejak duduk di  kelas 1 SMK. Kami berasal dari sekolah yang sama dan kami berdua satu kelas. Tapi Ani berasal dari daerah yang berbeda dengan ku. Ani berasal dari Belitar, sedangkan aku dari Bengkulu. Karena aku tidak sempat mengikuti ospek, jadi kami sama-sama tidak saling kenal.
____
Namun, waktu demi waktu kami menjadi dekat dan akrab. Kami pun sama-sama lulus sekolah. Aku melanjutkan sekolah di salah satu sekolah tinggi agama Islam di desaku. Sedangkan Ani, tidak melanjutkan sekolahnya. Ia lebih memilih bekerja. Terakhir ia bekerja sebagai penjaga toko busana tapi ia sekarang ia tidak bekerja lagi dan ia hanya di rumah saja. kami sudah lama tak bertemu karena aku sangat sibuk mengurusi tugas kuliahku. Hari ini kebetulan hari tenang menjelang UAS. Dan ia pun mengajakku untuk bertemu. Kami pun berjanji untuk jalan-jalan sekedar melepas rindu bertemu di rumahnya.
From: Ani
Tiin… lg ap ni??
Jalan yuk!
To: Ani
Lg nonton nih.. kmu lg ngapain?
Jalan??? Heee,,, mau jalan ke mana??
From: Ani
Hmmmm… Makan bakso jga boleh…
Nanti jemput aku ya… aku tunggu…
To: Ani
Ok. Traktiir ya… !
From: Ani
Ok. Cepetan aku tunggu… !
To: Ani
Iy. Tunggu aku ngeluarin motor dulu…”

Kamipun tiba di warung bakso “Tin, jumbo ya…? “ serunya dengan riang. “Gak pekek mie ya” jawabku. Yah… kami memang penggila bakso..hahaaa… kami menikmati bakso bersama seraya bercerita. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Kami pun segera pulang ke rumah. Cerita di warung bakso tadi kami lanjutkan lewat SMS sampai akhirnya kami berencana untuk pergi ke danua bersama esok hari. Tepat pukul 2 siang kami berangkat ke danau bersama. “Kita beli cemilan dulu ya, untuk kita makan di danau nanti”. “Ok“! Jawabku dengan riang.
____
“Huuuuuuh………… segar sekali…. Udaranya dingin ya Tin” kata Ani seraya mengambil jaket yang ada di dalam tasnya. “Iya Ani… dingin banget… bajuku sampe terbang-terbang anginnya deres banget ya…” sahutku sambil melipatkan tangan di dadaku. “ Eh, tuh ada tahu sumedang beli yuuk!!” iya ayok!” bang tahunya 5000 ya… cabenya jangan lupa, eh, tuh ada tempat bagus ke sana yok! Iya ayok foto-foto ya! Siip!!”
____
Saat itu kami benar-benar senang, berfoto bersama, dan tak lupa pula kami menyantap makanan yang sedari tadi telah dipersiapkan. Eh ya, kamu masih sama Heri kan?” tanyaku penasaran “iya, masih lah… heee… tapi sekarang aku punya pacar lagi nih… “ ha?? Siapa? Aku sungguh terkejut dengan perkataannya, mengingat bahwa ia dan Heri sudah berpacaran sangat lama sejak kelas 2 SMK, bahkan kini mereka sudah bertunangan. Aku pun berusaha mengingatkannya tentang Heri agar ia tidak larut dalam perselingkuhan ini gak tanggung-tanggung ia selingkuh dengan 2 pria sekaligus, dan aku menanyakan siapa kedua pria itu? Rony dan Tomy… loh kok bisa?? Aku melongo mendengar pengakuannya padaku. Ya bisa lah Ani gitu loh…. Heee J” jawabnya dengan santai. Huuuuuh… Edan kamu!! Terus gimana sama Heri, katanya kamu mau menikah sama Heri nanti?” Tanyaku yah… menurutku Heri anak yang baik, ia bahkan sekarang sedang bekerja keras untuk memenuhi biaya pernikahannya dengan Ani nanti. Sahabatku ini memang sangat berbeda denganku, wajahnnya tak begitu cantik ia tergolong gadis berwajah manis saja. tubuhnya tidak tinggi semampai. Sejak SMK ia memang selalu seperti itu, gonta ganti pacar meskipun ia sudah menjalani hubungan yang serius dengan Heri. Sedangkan aku sampai sekarang aku belum pernah pacaran, walaupun aku sudah berusia 20 tahun. Aku memang belum ingin pacaran. Karena aku ingin menghindari perbuatan zina. “ Ah… nantilah itu sekarang yang penting Tomy dulu. Tapi kalau sama si Rony, aku sudah putus dengannya. Tapi ia tidak mau putus denganku, ia masih terus berusaha menghubungi ku. Rony bekerja di toko mainan anak-anak ia berasal dari kota yang sama dengan mu Fatin. Tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya. Owh… terus kalo si Tomy? Tanyaku dengan sedikit kecewa dan penasaran. “Kalo si Tomy, ini yang paling aku cintai. Aku sayang banget sama dia,,, aku sampe bisa membayangkan wajahnya di sini, gimana ya? Seandainya ia daatang ke sini bersama cewek lain? Pokoknya aku suka banget sama Tomy. Awalnya aku sama sekali tidak menyukainya, ia pun pernahku tolak saat ia mencoba menembakku, aku bilang aku sudah punya pacar dan kami sudah bertunangan. Tapi, takdir berkata lain aku dan Tomy semakin dekat hingga perasaan itu mengalir begitu saja kami saling suka dan akhirnya akupun menerima cintanya dan berpacaran…” jelas Ani. Aku yang sedari tadi menyimak ceritanya tak habis pikir bagaimana ia bisa melakukan hal itu? Sementara Heri di sana tengah bekerja keras demi dirinya. Aku pun tak dapat berkomentar apa-apa tentangnya. Kami larut dalam suasana ramainya danau ini, kami lanjut berfoto-foto dan kali ini kami keliling danau dengan menaiki perahu kecil.
Perjalanan kami tak berhenti sampai di situ saja, kami melanjutkan perjalanan menuju kebun binatang. Setelah puas di sana kami pun pulang. Aku pulang dan istirahat, aku mencoba mengingat kembali cerita Ani, aku tak menyangka ia seperti itu. Dengan mudah ia yang berstatus bertungan bisa selingkuh dengan dua pria sekaligus. Hingga malam menjelang dan aku pun tertidur.
______
Beberapa hari kemudian kami janji untuk makan di luar, yah biasa apa lagi kalo bukan makan bakso? Kami berangkat bersama. Pesan bakso seperti biasa gak pakek mie! Heee… cerita kami tentang Tomy berlanjut.
“Aku kenal pertama kali sama Tomy itu karena ia adalah orang pinter/paranormal langganan ibu angkatnya Heri, aku sering ke rumahnya, karena setiap kami janjian ketemuan pasti di rumahnya terus. Tomy tidak mau diajak jalan keluar, selalu minta aku untuk datang ke rumahnya. Tapi sekarang aku lagi kesel sama dia, aku sms gak di balas terus seharian ini, dari pagi sampe malem. Ia baru bales sms ku jam 3 malam huuuuuf… mana gak kesel aku!! Yah mungkin gak ada pulsa kali… heeee.. sahutku. Kayak apa si orangnya? Ada fotonya gak? Liat dong…! Tukas ku.. itu lah gak ada fotonya, aku gak punya fotonya Tomy” jawab Ani sambil mengunyak bakso yang kenyal, dan terus menambah cabe ke dalam mangkuknya. Woy! Kamu ngambil cabe banyak sekali nanti sakit perut loh…! Seruku. Biarin aja deh…! Gak pedas kok… Jawabnya. Kali ini kami tak ke mana-mana setelah makan kami langsung pulang ke rumah. Sperti biasa obrolan kami berlanjut dengan sms. Sampai kami sama-sama terlelap di nyenyaknya tidur.

____
Di rumah Ani
“Fatin,, bentar lagi aku menikah loh… datang ya…heee… bentar lagi ibu ku pulang nih.. pasti bawa banyak oleh-oleh dari Malaysia” undangnya. “Loh? Katanya habis lebaran nikahnya?” Tanya ku penasaran. “Yah lihat saja nanti heeee…” jawabnya. Yap ibu Ani bekerja sebagai TKW di negeri Jiran Malaysia dan sudah sangat lama. “OK. Terus gimana sama Tomy?” tanyaku. Itulah yang sedang aku fikirkan, aku benar-benar tidak bisa putus darinya. Aku sangat sayang sama Tomy… aku tidak mau kehilangan dirinya” Ujar Ani. Haduh… gimana sih? Katanya mau mau menikah dan gak mau mikirin yang gak pasti? Kalo kamu seperti itu, terus gimana dengan Heri nanti? Kamu gak mikirin gimana perasaannya? Tanyaku. Biarin aja deh… aku menikah sama Heri tapi aku pacaran sama Tomy… “ cetusnya dengan tidak merasa bersalahnya. Aku seketika melongo setelah mendengar ceritanya. Yah udah deh,, aku pulang dulu yah… dah… aku pun beranjak pulang ke rumah. Sebagai teman aku hanya bisa sedikit mengingatkan Ani, aku tidak mau terlibat terlalu dalam dalam kisah cintanya itu, nanti aku sendiri yang pusing kan? Karena itulah aku langsung pulang ke rumah.
Bersambung…