Rajutan Asa Mak Yus
Kukuruyuuukk… Kukuruyuuukk...
Pagi ini suara ayam bersahutan,
dengan diringi suara adzan yang damai. Yang selalu memberi semangat di tengah
hawa dingin yang menusuk balung (tulang), karena memang hawa hari ini lebih
dingin dari sebelumnya. Mak Yus yang tinggal di Curup, desa Air Meles Bawah,
Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu ini, segera bangkit dari tempat
tidurnya, dan langsung mandi seakan tak meghiraukan hawa dingin pagi ini.
Setelah mandi mak Yus melakukan salah satu kewajiban umat Islam umumnya untuk
shalat subuh yang diawali dengan berwudhu.
Tak lupa di balik umtaian do’anya
ia memohon agar Allah SWT memberkahkahkan rezekinya hari ini. Tak perlu untung
banyak, asal bisa menyimpan sedikit hasil untuk, biaya kuliah anaknya, dan uang
tabungan dikehidupan mendatang. Yah, mak Yus mempunyai lima orang anak, tiga
laki-laki dan dua perempuan, tapi dua orang anaknya sudah meninggal dunia.
Anaknya yang kedua sudah hidup berkeluarga dan tinggal di Kabupaten sebrang
sana yaitu Kabupaten Kepahiyang Yono namanya, begitu juga anak ketiganya Anto
juga ikut berkeluarga dan kini tinggal di Bengkulu Tengah. Anak keempatnya Alin,
kini memasuki pertengahan semester 3, ia kuliah di salah satu kampus di desanya
yaitu STAIN CURUP. Ia mengambil jurusan tarbiyah prodi PGMI.
“Hhmm,,, adem’e koyok es,,
koyok’e dino ki terang,,” (hmmm,, dingin sekali kayak es,, kayaknya hari ini
cerah) gumam mak Yus dalam hati sambil meletakkan satu cerek air di atas kompor.
Setelah itu mak Yus langsung menyiapkan sarapan, sambil membangunkan anaknya
“Lin,,,, tangi no,, shalat subuh
nduk,,,,” (“Lin,, bangun, shalat subuh nduk,,,”) ujar mak Yus
“Iyo, mak,,, aku mandi sek ah,,,”
(iya, bu,, aku mandi dulu ah,,,”) sahut anaknya dengan riang
“Yo, mandi lah,,,” (“ya, mandi
lah,,”)
“Mak masak opo?” (“ibu masak
apa?”)
“Goreng endok loro ae ki”
(“goreng telur dua saja lah,,,”)
“ojo asin-asin no mak,,” (“jangan
teralu asin ya bu,,,”)
“iyo-iyo,,,” (iya, iya”)
Sayup-sayup terdengar suara
lantunan dzikir dari sudut kamar, yah,, di sana ada mbah Kadar yang sedang
shalat sambil berdzikir. Mbah Kadar sudah lama tinggal ikut dan bersama kami,
semenjak bapaknya Alin meninggal. Jadi, di rumah yang tak begitu luas ini
dihuni oleh tiga orang hawa, mak Yus, mbah, dan Alin.
“Yo, Yus goreng endok wae lah,,
sambel wingi jek ono,, engko awan oseng-oseng tempe wae yo? Koyok wingi enak na
Yus…” (“Ya, Yus goreng telur aja lah,,, sambal kemarin masih ada,, nanti siang
oseng-oseng tempe aja ya? Seperti kemarin itu Yus…”) sahut mbah dari kamar.
“Iyo, mak engko aku tuku tempe
seng akeh..” (“iya, bu nanti aku beli tempe yang banyak,,,”)
Yah,, mak Yus janda beranak tiga
ini sudah sekitar 14 tahunan berpropesi sebagai pedagang sayur keliling.
Penghasilannya tak begitu besar, namun mak Yus tetap bersyukur pada Allah SWT
dari hasil penjualannya yang ia selalu kumpulkan sedikit demi sedikit. Hingga kini
ia dapat membeli sebuah rumah sederhana, dan dapat juga membelikan sebuah
laptop untuk bekal belajar anaknya, dan bisa mencicil sebuah sepeda motor yang
bisa dipakai anaknya kuliah, dan membantunya berjualan.
Suaminya meninggal sudah sekitar
4 tahun yang lalu. Pak Rudi namanya, suaminya dulu sebelum meninggal, ia berpropesi
sebagai pekerja pembuat jalan raya. Tapi karena penyakit diabetesnya sudah parah,
dan beliaupun meninggal dunia.
“yok Lin mangkat, opo arep
sarapan sek Lin? nek sarapan, ngangge piring mamak ki na Lin enek endok’e
secuil ku, mamak gak entek. Entekne la Lin…” (“Yok Lin, berangkat, apa mau
sarapan dulu? Kalau mau sarapan, pake piring ibu ni, ada telur nya sedikit tu,
ibu tidak habis. Habiskan lah Lin…”)
“iyo, mak,,” (“Iya, bu…”)
Setelah mereka selesai sarapan, mak
Yus pun berangkat, yang setiap harinya
diantar oleh Alin. Nah samapailah mak Yus di pasar, bak pemburu yang sudah siap
melucuti buruannya, mak Yus langsung membaur dan mulai berbelanja untuk bahan
dagangannya hari ini.
“Eh, ndok-ndok,,, terus wae, endi
ndok’e?” (“Eh, telur-telur,,, terus aja, mana telurnya?”)
“iyo, kosek to mas,, aku arep
golek tempe sek engko ra kebagian ki,, cepet entek tempe ki, nak gak cepet ra
entok..” (“Iya, sebentar mas,, aku mau cari tempe dulu nanti gak kebagian ni,,,
cepat habis tempenya, kalu gak cepet, gak dapat… “)
“iyo-iyo,, endok’e ki rene sek
lah ah,,” (“Iya-iya,, sini dulu telurnya ah… “)
“yo,yoh,, nyoh yo,,,” (“iya, ya,,
nih ya,,,”)
Memang, mak Yus tak hanya menjual
berbagai macam sayuran, berbagai bumbu dapur, dan berbagai ikan dari ikan kali
(sungai) sampai ikan laut, serta berbagai macam ikan asin. Dan juga telur rebus serta berbagai jajanan
pasar lainnya. Mangkanya sesampainya di pasar mak Yus langsung disahuti
pelanggan telur rebusnya. Yah,, namanya
juga pasar,, pasti ramai,,
Setelah selesai berbelanja, sarau
(keranjang gendong) besarnya pun sudah penuh, begitu juga kedua tas keranjang
kecilnya puas rasanya sudah mendapat sayuran yang bagus-bagus. Mak Yus pun segera melangkahkan kakinya,
menuju rumah-rumah di belakang pasar untuk menemui para pelanggannya karena mak
Yus sudah cukup lama berjualan, jadi mak Yus telah mempunyai langganan tetap
yang selalu menunggu mak Yus. Mak Yus mulai mengelurkan suara emasnya.
“Sayur… sayur… sayur…!”
“Bik, sayur,,! Ado sayur apo bae
bik?” (“Bi, sayur! Ada sayur apa aja bi?”)
“Yo, banyak ko. Sawi manis, sawi
senter, kangkung, genjer, kacang panjang, terong, ikan, ayam, telok rebus.
Banyak ko belanjo la we…” (“Ya, banyak ni.
Sawi manis, sawi senter, kangkung, genjer, kacang panjang, terong, ikan,
ayam, telur rebus. Banyak ni ayo, belanja dong…”)
Dengan sabar ramahnya mak Yus melayani
para pelanggannya. Tak semua pelanggan membayar dengan uang tunai, ada yang memakai
sistem tukar barang, ada yang cash bon, yang tidak bayar pun ada. Mungkin karena
sama-sama lupa, namun mak Yus tak berkecil hati, karena baginya dihutang taka
apa, karena dengan begitu mak Yus jadi mempunyai tabungan, hutang dari
pelanggannya ia anggap sebagai uang celengan (tabungan). Orang-orang cash bon
baru akan membayar setiap awal bulan atau saat gajian, hal itu juga berlaku
bagi pegawai negeri. Mak Yus tahu benar bagaimana keadaan ekonomi para
pelanggannya, profesi pelanggannya beracam-macam ada yang berprofesi sebagai
buruh tani, buruh serabutan, yang satu profesi pun ada sampai para PNS, dan
lain-lain.
Mak Yus sangat bersyukur, dengan
profesinya sebagai tukang sayur keliling seperti ini, tidak merasakan
kekurangan, soal sandang pangannya, uang sekolah anaknya tidak sampai
menunggak, dan yang terpenting mak Yus masih bisa menolong orang lain disaat
orang lain mengalami kesulitan. Mak Yus juga selalu siap menampung berbagai
curhatan para pelanggannya dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Maklum
saja, mak Yus cukup dekat dengan pelanggannya sehingga mereka tak segan saling
bertukar cerita.
Tak sedikit orang yang sering
mencemoohkan mak Yus dengan profesinya sebagai tukang sayur keliling. Namun,
mak Yus tak berkecil hati ia tetap melangkahkan kakinya ia tak menghiraukan apa
yang dikatakan mereka terhadap dirinya. Langkah demi langkah mak Yus menyusuri
jalanan antar desa, matahari telah menampakkan gelora apinya. Panas mulai
menyengat. Sampailah makyus di rumak pelanggan terakhirnya. Dan mak Yus segera
memberi tahu Alin anaknya untuk segera menjemputnya. Seketika mak Yus pulang
berboncengan dengan Alin, sambil menyuarakan suara emasnya.
“Sayur… sayur… sayuuuuur…!”
“Alhamdulillah… hari ini laris
manis,,”
Begitulah hari-hari mak Yus yang
kesehariannya menjadi tukang sayur keliling. Kesederhanaan bukan berarti kehinaan. Kemiskinan bisa
membawa kemuliaan. Bersyukur adalah cara terbaik menikmati hidup. "Opo Jare gusti Allah Aku Manut"
Cerpen karya: Marlinawati
Face book: Marlinawati Lina
No Hp: 085758397945